Guru Penggerak untuk Indonesia Maju



 “Kita telah jatuh, karena kita tidak belajar. Kita kuat dalam senjata dan strategi perang. Tapi kita tidak tahu bagaimana mencetak bom yang sedahsyat itu. Kalau kita semua tidak bisa belajar bagaimana kita akan mengejar mereka? Maka kumpulkan sejumlah guru yang masih tersisa di seluruh pelosok kerajaan ini, karena sekarang kepada mereka kita akan bertumpu, bukan kepada kekuatan pasukan.” - Kaisar Hiroto

Begitulah ungkapan bijak dari seorang Kaisar Jepang ketika Hiroshima dan Nagasaki hancur lebur terkena Bom Atom. Dia tidak menanyakan berapa harta yang tersisa, atau berapa pasukan yang tersisa, tetapi Kaisar Hiroto justru menanyakan, berapa banyak guru yang tersisa. sungguh pemikiran yang hebat, ketika semua hanya hancur, hanya guru lah satu - satu nya harapan untuk membangun kembali sebuah peradaban. 

Begitupun di Negara kita Indonesia, jika kita kembali membaca sejarah, Kemerdekaan kita di raih berkat perjuang para Guru, Ulama dan cendikiawan yang senantiasa mengabdikan diri untuk mengajar serta mendidik rakyat Indonesia agar menjadi seorang manusia yang intelek dan terpelajar serta berpikiran maju. mereka menanamkan benih - benih nasionalisme yang kelak menjadi modal terbesar dalam meraih kemerdekaan seperti saat ini.

Begitu pentinya peran seorang guru, Rasululah SAW bahkan menyembukan bahwa Ulama/Guru adalah para Nabi. Rasul begitu percayanya kepada seorang guru, sampai secara tidak langsung mengungkapkan bahwa baik buruknya dunia di masa depan tergantung dari baik buruknya seorang guru.

Karena melihat seorang guru layaknya kita melihat seorang pelukis yang siap yang mampu memadukan warna menjadi sebuah karya yang Indah, sama hal nya seperti seorang Komposer musik yang mampu memadukan jenis suara yang berbeda menjadi suatu kesatuan nada yang harmoni dan menyejukan telinga. Guru juga di ibaratkan seorang mekanik yang mampu merangkai unsur yang berbeda menjadi satu kesatuan yang bermakna dan bermanfaat. 

Selain itu seorang guru di ibaratkan seperti seorang petani yang mampu mengetahui kondisi tanah sehingga dia bisa dengan tepat memutuskan tananman apa yang cocok ditanami. tak hanya itu dia akan senantiasa merawat dan menjaga pertumbuhan tanamanya agar kelak ketika di panen tanaman itu pun bisa memberikan banyak manfaat bagi seluruh alam.

itulah yang diharapkan Bangsa Kita dari seorang guru untuk bisa mewujudkan Impian dan cita - cita para pendahulu kita pasca kemerdekaan 76 Tahun yang lalu. para pendahulu kita memimpikan sebuah peradaban yang maju dan luhur melalui pendidikan.  Cita - cita luhur yang kemudian dituangkan dalam tujuan Pendidikan Nasional yakni “Mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”. 

Dewasa ini, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan telah mencetuskan sebuah program yang akan membatu para guru dalam mewudkan tujuan pendidikan nasional tersebut. Program itu adalah Program Guru Penggerak. sebuah program yang lahir dan terinsfirasi dari filosopi pemikiran Bapak Pendidikan Nasional kita yaitu Ki Hajar Dewantara. 

Menurut penjelasan dari Kemendikbud, Guru Penggerak adalah pemimpin pembelajaran yang mendorong tumbuh kembang murid secara holistik, aktif dan proaktif dalam mengembangkan pendidik lainnya untuk mengimplementasikan pembelajaran yang berpusat kepada murid. Selain itu, guru penggerak juga menjadi teladan dan agen transformasi ekosistem pendidikan untuk mewujudkan profil Pelajar Pancasila.

Melalui peluncuran program guru penggerak, Kemendikbud berharap bahwa guru penggerak  dapat menjalankan 5 peran utama yakni:

1) Menggerakkan komunitas belajar untuk rekan guru di sekolah dan di wilayahnya

2) Menjadi Pengajar Praktik bagi rekan guru lain terkait pengembangan pembelajaran di sekolah

3) Mendorong peningkatan kepemimpinan murid di sekolah

4) Membuka ruang diskusi positif dan ruang kolaborasi antara guru dan pemangku kepentingan di dalam dan luar sekolah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran

5) Menjadi pemimpin pembelajaran yang mendorong well-beingekosistem pendidikan di sekolah

Peran tersebut sangatlah krusial bagi dunia pendidikan Indonesia. Oleh karena itulah, calon guru penggerak akan melalui berbagai proses. Para calon guru penggerak harus mengikuti pendidikan guru penggerak selama 9 bulan sebelum dinyatakan lulus menjadi guru penggerak.

banyak sekali modul yang dipelajari melalui pendidikan guru penggerak ini, yang tentunya akan sangat bermanfaat bagi kita sebagai seorang guru sebagai bekal menjalankan tugas dan kewajiban serta bekal untuk menjadi pemimpin pembelajaran yang inspiratif dan visoner.

Ada 3 Paket Modul yang harus diselesaikan oleh seorang guru penggerak, dalam paket modul tersebut terdiri dari beberapa sub modul yang berkaita,  yaitu 

Paket Modul 1:  Paradigma dan Visi Guru Penggerak

Sub modul 1.1 : Refleksi Filosofi Pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantara

Sub Modul 1.2 : Nilai dan Peran Guru Penggerak

Sub Modul 1.3 : Visi Guru Penggerak

Sub Modul 1.4 : Budaya Positif

Paket Modul 2: Praktek Pembelajaran yang Berpihak Kepada Murid

Sub Modul 2.1 : Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid Melalui Pembelajaran Berdiferensiasi

Sub Modul 2.2 : Pembelajaran Sosial dan Emosional

Sub Modul 2.3 : Coaching

Paket Modul 3: Pemimpin Pembelajaran dalam Pengembangan Sekolah

Sub Modul 3.1 : Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran

Sub Modul 3.2 : Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya

Sub Modul 3.3 : Pengelolaan Program Sekolah



Melalui rangkaian kegiatan modul tersebut Calon Guru Penggerak senantiasa dilatih untuk mempunyai nilai - nilai Mandiri, Reflektif, Kolaboratif, Inovatif, serta Berpihak pada Murid. Kelima nilai ini akan berpadu dan bersinergi menjadi sebuah kesempurnaan jika dimiliki, dihayati dan diimplementasikan oleh seorang pendidik menuju Merdeka Belajar.

Nilai Mandiri akan muncul dalam seseorang jika melakukan sesuatu tanpa ada perintah terlebih dahulu. Baik dari pimpinan atau siapapun. Keinginan untuk maju dan berkembang menjadi kunci tumbuhnya kemandirian.

Sikap Reflektif merupakan sebuah usaha untuk menilai atau mengkaji atas apa yang telah dilakukan seseorang. Apakah kegiatan itu berdampak negatif atau positif, baik bagi dirinya atau pun orang sekitar. Sikap ini pula yang akan menjadi dasar untuk melakukan kegiatan atau tindakan selanjutnya.

Kolaboratif (bersifat kolaborasi). Sikap ini merupakan sebuah usaha untuk menjalin kerjasama dengan berbagai pihak. Misal, dengan orangtua murid/komite dan rekan pengajar di sekolah atau dengan rekan komunitas lain seperti di tingkat gugus. Bahkan bisa menjalin hubungan baik dengan komunitas di luar yang lebih luas untuk menciptakan hubungan yang saling mendukung demi pendidikan yang lebih baik dan bermanfaat bagi dunia pendidikan yang lebih luas.

Inovatif (bersifat memperkenalkan sesuatu yang baru; ber-sifat pembaruan [kreasi baru]). Untuk menemukan inovaai khususnya dalam model pembelajaran yang akan mendukung kinerja sebagai pendidik yang lebih berkompeten. Salah satunya mengikuti perlombaan inovasi pembelajaran (inobel) mulai dari level kecamatan hingga nasional.

Kemudian yang terakhir adalah sikap "Berpihak pada Murid". Sikap ini harus ditingkatkan prosentasenya. Karena selama ini bekerja atau bertugas di kelas lebih kepada sesuai tuntutan kurikulum. Materi pelajaran harus tercapai sementara abai pada keadaan apakah murid sudah paham (baca:tuntas) atau belum atas sebuah kompetensi yang diharapkan.

Dengan memahami dan mengimplementasikan kelima nilai tersebut sebagai usaha untuk lebih baik, semoga merdeka belajar akan selangkah lebih dekat untuk tercapai diiringi dengan upaya lainnya untuk saling mendukung dan menguatkan.

Selain dari itu melalui rangkaian kegiatan guru penggerak kita akan ditungtut dan dilatih untuk mengambil keputusan  baik ketika kita dihadapkan dengan Dilema etika maupun ketika kita dihadapkan dengan Bujukan Moral. Dilema etika merupakan situasi yang terjadi ketika seseorang harus memilih antara dua pilihan di mana kedua pilihan secara moral benar tetapi bertentangan, sedangkan bujukan moral merupakan situasi yang terjadi ketika seseorang harus membuat keputusan antara benar atau salah.

Dari pengalaman kita bekerja kita pada institusi pendidikan,  kita telah mengetahui bahwa dilema etika adalah hal berat yang harus dihadapi dari waktu ke waktu.

Ketika kita menghadapi situasi dilema etika, akan ada nilai-nilai kebajikan mendasari yang bertentangan seperti cinta dan kasih sayang, kebenaran, keadilan, kebebasan, persatuan, toleransi, tanggung jawab dan penghargaan  akan hidup.

Secara umum ada pola, model, atau paradigma yang terjadi pada situasi dilema etika yang bisa dikategorikan seperti di bawah ini:

- Individu lawan masyarakat (individual vs community)
- Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)
- Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)
- Jangka pendek lawan  jangka panjang (short term vs long term)

Untuk mengatasi hal tersebut setidaknya ada tiga prinsip ini yang seringkali membantu  dalam menghadapi pilihan-pilihan yang penuh tantangan, yang harus dihadapi pada dunia saat ini. (Kidder, 2009, hal 144). Ketiga prinsip tersebut adalah:
1. Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking)
2. Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)
3. Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)

Tak hanya itu melalui kegiatan guru penggerak untuk menghasilkan keputusan yang tetap ada 9 langkah yang harus dilalui, yaitu:

Langkah 1 : Mengenali bahwa ada nilai-nilai yang saling bertentangan dalam situasi ini.

Langkah 2 : Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini

Langkah 3 : Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini.

Langkah 4 : Pengujian benar atau salah, yang terdiri dari :

                      - Uji Legal

                      - Uji Regulasi/Standar Profesional

                      - Uji Intuisi

                     - Uji Publikasi

                     - Uji Panutan/ Idola

Langkah 5 : Pengujian Paradigma Benar lawan Benar

Langkah 6 : Melakukan Prinsip Resolusi

Langkah 7 : Investigasi Opsi Trilema

Langkah 8 : Buat Keputusan

Langkah 9 : Lihat lagi Keputusan dan Refleksikan

Syahdan, hemat saya sebagai seorang calon guru penggerak bahwa program ini sangat dibutuhkan sekali bagi seluruh guru dan menjadi solusi terbaik untuk mewujudkan Indonesia yang Maju.

Komentar